Selamat datang di Perpustakaan IAIN Salatiga
PEMBATALAN PERKAWINAN KARENA PEMALSUAN IDENTITAS SUAMI (Studi Analisis Putusan No. 0560/Pdt.G/2011/PA.Sal)
Tahun 2012
Penulis HADAENA MU’ARIFAH
Pembimbing Drs. BADWAN, M.Ag.
Subyek AHWAL AL SYAKHSIYYAH
Download File fulltext : []
abstraksi : []
Abstrak
Kata Kunci: Pembatalan Perkawinan, Pemalsuan, Identitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pembatalan Perkawinan Karena Pemalsuan Identitas Suami. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1) Apa pertimbangan pemohon mengajukan permohonan pembatalan perkawinannya di Pengadilan Agama Salatiga dalam Perkara No. 0560/Pdt.G/2011/PA.Sal?, (2) Apa Pertimbangan Hakim terhadap Permohonan Pembatalan Perkawinan dalam perkara No. 0560/Pdt.G/2011/PA.Sal?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Ketentuan hukum mengharuskan perkawinan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memenuhi syarat dan rukun perkawinan. Salah satu syarat perkawinan yang harus dipenuhi adalah adanya kesepakatan yang berarti harus ada kejujuran antara masing-masing pihak yang hendak melangsungkan perkawinan, termasuk didalamnya telah diketahuinya kebenaran identitas diri oleh masing-masing pihak sehingga menghindari terjadinya kebohongan atau penipuan dari salah satu pihak yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Temuan penelitian ini adalah keputusan pembatalan perkawinan yang didasarkan pada pertimbangan fakta-fakta hukum yang dinyatakan telah terbukti dan cukup alasan bahwa suami (termohon) terbukti telah melakukan penipuan dengan sengaja dimana termohon mengaku sebagai duda mati dengan melampirkan surat kematian istri sirrinya, padahal kenyataannya termohon masih berstatus suami dari istri pertama yang sah meskipun sudah dalam proses perceraian. Pertimbangan tersebut berdasarkan pasal 72 ayat (2) KHI yang pada pokoknya menegaskan bahwa seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau istri. Penipuan yang dimaksud, termasuk didalamnya penipuan mengenai status diri salah satu pihak yang dengan sengaja dilakukan ketika mencapai tujuan tertentu. Melalui penelitian ini dihasilkan suatu kesimpulan bahwa dalam perkara pembatalan perkawinan No. 0560/Pdt.G/2011/PA.Sal. telah terjadi hal yang dapat dijadikan alasan untuk dilakukannya pembatalan perkawinan, karena telah terjadi penipuan yang dilakukan oleh termohon terhadap pemohon mengenai status dirinya yang bertentangan dengan syarat-syarat perkawinan.